Rajapoker88

Kumpulan Berita Terhangat & Terupdate

Bisa Makan Dinosaurus, Seberapa Kuat Rahang Katak Purbakala Ini?

Beelzebufo ampinga

 Bila Anda pernah melihat katak makan serangga yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya, itu memang benar. Namun, daya serang katak lebih dari itu. Katak purba yang hidup sekitar 70 juta tahun yang lalu bahkan mampu melahap dinosaurus. Kemampuan tersebut dimilki oleh katak Beelzebufo ampinga.

Dengan tubuh sebesar bola pantai, B ampinga adalah katak terbesar yang diketahui manusia. Ia mirip dengan katak Ceratophrys modern yang memiliki badan bulat dan mulut yang sangat besar sehingga dijuluki katak Pacman.

Menggunakan skala perbandingan dengan katak Ceratophrys, para peneliti pun mengukur kekuatan rahang B ampinga.

 http://bit.ly/pemenang5

Para peneliti menggunakan tranduser tekanan buatan berupa dua plat yang dilapisi kulit. Saat seekor katak menggigit plat, tranduser akan mengkalkulasi kekuatan gigitan dengan akurat.

Dengan lebar kepala 4,5 centimeter (cm), Ceratophrys ternyata memiliki kekuatan gigitan sebesar 30 Newton atau sekitar 3 kilogram (kg) yang diggunakannya untuk menjepit mangsanya yang bergerak-gerak.


Sementara itu, katak bertanduk besar dengan mulut 10 cm memiliki kekuatan gigitan sebesar 500 Newton atau 50 kg. Katak yang hidup di Amerika Selatan ini punya kekuatan yang setara dengan kura-kura, buaya, dan mamalia pemangsa dengan ukuran mulut yang sama.

"Tidak seperti kebanyakan katak yang memiliki rahang lemah dan mengonsumsi mangsa kecil, katak bertanduk menyergap hewan yang sebesar dirinya - termasuk katak lain, ular, dan hewan pengerat. rahang kuat mereka memainkan peran penting dalam meraih dan menaklukkan mangsanya," kata peneliti Marc Jones dari University of Adelaide dan South Australian Museum.

 http://bit.ly/pemenang5

Dalam kasus bebek scaup, berada dalam kelompok bebek pesaing sepertinya membuat bebek tergerak menjadi lebih unggul di antara pesaing lainnya, kemudian menumbuhkan penis yang lebih panjang.
Sedangkan pada bebek Ruddy, faktor hirarki diantara bebek sepertinya ikut berperan.

Hasil penelitian membuat Brennan berpendapat bahwa yang terjadi pada bebek tersebut merupakan efek dari tekanan sosial saat bersaing memperebutkan betina.
"Tekanan dapat meningkatkan hormon stress dan itu berpengaruh pada hormon androgen," kata Brennan.

Hal ini untuk sementara memang baru terjadi pada dua spesies bebek saja.
Namun, peneliti menganggap temuan ini bisa menunjukkan bahwa pertumbuhan genital tidak hanya terjadi dalam jangka panjang. Perubahan bisa terjadi dalam jangka waktu pendek tergantung dari variabel seperti tempat, waktu, dan kehidupan suatu spesies.
Temuan ini dipublikasikan dalam Ornithological Advances.


BeritaSatu


 http://bit.ly/pemenang5
Previous
Next Post »